jumlah pengunjung blog

jumlah pengunjung blog

google translet

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Laman

Minggu, 31 Juli 2011
Diposting oleh Amel_Lia

ABSTRAK
HUBUNGAN ANTARA PELAKSANAAN TINDAKAN INISIASI
MENYUSU DINI DENGAN KELANCARAN ASI PADA
IBU POST PARTUM DI RSIA
MUSLIMAT JOMBANG

Oleh : Rina Amalia
070201077

Pembimbing I : Sestu Retno D.A., S.Kp., M. Kes
Pembimbing II : drg. Effy Kurniati

Inisiasi air susu ibu (ASI) merupakan proses permulaan/pengenalan bayi dalam mendapatkan ASI sejak lahir sampai menyusui pertama kali. Pada kesempatan satu jam pertama paska bayi lahir, akan melatih bayi secara naluriah menemukan sendiri puting susu ibunya. Bila bayi bisa menyusu dalam 20-30 menit pertama setelah lahir akan membangun refleks menghisap pada bayi dan dapat meningkatkan produksi ASI. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan inisiasi dini dengan kelancaran ASI pada ibu post partum.
Penelitian ini menggunakan desain penelitian analitik korelasional dengan pendekatan prospektif yang dilaksanakan pada bulan Mei - Juni 2011. Analisis yang digunakan Chi- Square dan diolah secara komputerisasi menggunakan SPSS 13,0. Populasi dalam penelitian ini adalah ibu post partum dengan persalinan normal di RSIA Muslimat Jombang sebanyak 31 orang. Cara pengambilan sampel pada penelitian ini adalah teknik purposive sampling, dengan jumlah sampel 27 orang. Pengumpulan data menggunakan kuesioner dan lembar observasi yang kemudian dianalisa dengan menggunakan uji statistik chi square.
Dari hasil uji chi square didapat X2 sebesar 6,667 dimana harga chi tabel dengan dk = 1 dengan taraf signifikan 5% (0,05) adalah 3,418 hal ini berarti X2 hitung lebih besar dari X2 tabel ( 6,667 > 3,418) dan HI diterima yang berarti jika  responden melakukan inisiasi menyusu dini maka produksi ASI nya lancar dan jika responden tidak berhasil melakukan inisiasi menyusu dini maka produksi ASI nya tidak lancar. Keeratan hubungan antara variable inisiasi menyusu dini dengan kelancaran ASI sebesar 0,049, sehingga dapat disimpulkan bahwa hubungan antara inisiasi menyusu dini dengan kelancaran ASI adalah sedang dengan arah positif.
Berdasarkan hasil penelitian disarankan agar pemerintah dan praktisi kesehatan lebih intensif dalam mempromosikan program Inisiasi Menyusui Dini. Dengan harapan peningkatan pengetahuan masyarakat dapat meningkatkan motivasi dan sikap yang mendukung insiasi menyusu dini karena sangat banyak manfaat yang dapat diperoleh dari inisiasi menyusu dini.

Kata Kunci : Inisiasi Menyusu Dini, Kelancaran ASI






ABSTRACT
CORRELATION BETWEEN THE EARLY INITIATION BREASTFEEDING AND BREAST MILK FLUENCY
IN MOTHER POST PARTUM IN RSIA
MUSLIMAT JOMBANG

By : Rina Amalia
070201077

Advisor I : Sestu Retno D.A., S.Kp., M. Kes
Advisor II : drg. Effy Kurniati

Initiation of breast milk is the introduction/initial process in breast-fed infants from birth to first lactation. On the occasion of the first hour after the baby is born, infant is instinctively trained to find his mother’s nipple. If the baby can suckle within the first 20-30 minutes after the birth, the baby's sucking reflex can be learned and can increase milk production. This study aims to determine the correlation of early initiation of breastfeeding in mothers with a smooth post-partum.
This study used a correlation research design with a prospective approach, which was conducted in May-June 2011. The analysis used Chi-Square and processed and computerized using SPSS 13.0. The populations in this study were post-partum mothers with normal deliveries in RSIA Muslimat Jombang as many as 31 people. Method of sampling in this study was purposive sampling technique, using sample of 27 people. Data were collected using questionnaires and observation sheet which was then analyzed using chi square statistical test.
From the chi square test results obtained for 6.667 X2 where prices chi table with df = 1 with a significant level of 5% (0.05) is 3.418 this means X2 count is greater than X2 table (6.667> 3.418) and HI is received which means there is a correlation between early initiation of breastfeeding in mothers and a smoothness of breast milk excretion on post partum mother at RSIA Muslimat Jombang with the correlation between the variables of early initiation of feeding and fluidity of breast milk excretion of 0.049, so it can be concluded that the correlation between early initiation of feeding and breast milk is being easy to produce with the positive direction.
Based on the results of the study, it is recommended that governments and health practitioners more intensively promoting a program of Early Initiation of Breastfeeding. With the hope of increasing people's knowledge can also improve the motivation and attitudes that support breastfeeding initiation early because so many benefits that can be obtained and early initiation of breastfeeding.

Keywords: Early Initiation Breastfeeding, Smoothness Breast milk

Sabtu, 23 Juli 2011
Diposting oleh Amel_Lia

ABSTRAK
HUBUNGAN ANTARA PELAKSANAAN TINDAKAN INISIASI
MENYUSU DINI DENGAN KELANCARAN ASI PADA
IBU POST PARTUM DI RSIA
MUSLIMAT JOMBANG

Oleh : Rina Amalia
070201077

Pembimbing I : Sestu Retno D.A., S.Kp., M. Kes
Pembimbing II : drg. Effy Kurniati

Inisiasi air susu ibu (ASI) merupakan proses permulaan/pengenalan bayi dalam mendapatkan ASI sejak lahir sampai menyusui pertama kali. Pada kesempatan satu jam pertama paska bayi lahir, akan melatih bayi secara naluriah menemukan sendiri puting susu ibunya. Satu jam pertama setalah bayi lahir, adalah kesempatan emas yang akan menentukan keberhasilan ibu untuk menyusui bayinya secara optimal. Bila bayi bisa menyusu dalam 20-30 menit pertama setelah lahir akan membangun refleks menghisap pada bayi dan dapat meningkatkan produksi ASI. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan inisiasi dini dengan kelancaran ASI pada ibu post partum.
Penelitian ini menggunakan desain penelitian korelasional dengan pendekatan prospektif yang dilaksanakan pada bulan Mei — Juni 2011. Analisis yang digunakan Chi-Square dan diolah secara komputerisasi menggunakan SPSS 13,0. Populasi dalam penelitian ini adalah ibu post partum dengan persalinan normal di RSIA Muslimat Jombang sebanyak 31 orang. Cara pengambilan sampel pada penelitian ini adalah teknik purposive sampling, dengan jumlah sampel 27 orang. Pengumpulan data menggunakan kuesioner dan lembar observasi yang kemudian dianalisa dengan menggunakan uji statistik chi square.
Dari hasil uji chi square didapat X2 sebesar 6,667 dimana harga chi tabel dengan dk = 1 dengan taraf signifikan 5% (0,05) adalah 3,418 hal ini berarti X2 hitung lebih besar dari X2 tabel ( 6,667 > 3,418) dan HI diterima yang berarti ada hubungan antara inisiasi menyusu dini dengan kelancaran ASI pada ibu post partum di RSIA Muslimat Jombang dengan ke eratan hubungan antara variable inisiasi menyusu dini dengan kelancaran ASI sebesar 0,049 , sehingga dapat disimpulkan bahwa hubungan antara inisiasi menyusu dini dengan kelancaran ASI adalah sedang dengan arah positif
Berdasarkan hasil penelitian disarankan agar pemerintah dan praktisi kesehatan lebih intensif dalam mempromosikan program Inisiasi Menyusui Dini. Dengan harapan peningkatan pengetahuan masyarakat dapat meningkatkan motivasi dan sikap yang mendukung insiasi menyusu dini karena sangat banyak manfaat yang dapat diperoleh dan inisiasi menyusu dini.

Kata Kunci : Inisiasi Menyusu Dini, Kelancaran ASI

Diposting oleh Amel_Lia

Inisiasi menyusu dini (IMD) merupakan proses permulaan/pengenalan bayi dalam mendapatkan ASI sejak lahir sampai menyusui pertama kali. Pada kesempatan satu jam pertama paska bayi lahir, akan melatih bayi secara naluriah menemukan sendiri puting susu ibunya. Satu jam pertama setalah bayi lahir, adalah kesempatan emas yang akan menentukan keberhasilan ibu untuk menyusui bayinya secara optimal. Bila bayi bisa menyusu dalam 20-30 menit pertama setelah lahir akan membangun refleks menghisap pada bayi dan dapat meningkatkan produksi ASI. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan inisiasi dini dengan kelancaran ASI pada ibu post partum.
Penelitian ini menggunakan desain penelitian analitik korelasional dengan pendekatan  prospektif yang dilaksanakan pada bulan Mei – Juni 2011. Analisis yang digunakan Chi-Square dan diolah secara komputerisasi menggunakan SPSS 13,0. Populasi dalam penelitian ini adalah ibu post partum dengan persalinan normal di RSIA Muslimat Jombang sebanyak 31 orang. Cara pengambilan sampel pada penelitian ini adalah teknik purposive  sampling, dengan jumlah sampel 27 orang. Pengumpulan data menggunakan kuesioner dan lembar observasi yang kemudian dianalisa dengan menggunakan uji statistik chi square.
Dari hasil uji chi square didapat X2 sebesar 6,667  dimana harga chi tabel dengan dk = 1 dengan taraf signifikan 5% (0,05) adalah 3,418 hal ini berarti X2 hitung lebih besar dari X2 tabel ( 6,667  ≥ 3,418) dan H1 diterima yang berarti ada hubungan antara inisiasi menyusu dini dengan kelancaran ASI pada ibu post partum di RSIA Muslimat Jombang dengan ke eratan hubungan antara variable inisiasi menyusu dini dengan kelancaran ASI sebesar 0,049 , sehingga dapat disimpulkan bahwa hubungan antara inisiasi menyusu dini dengan kelancaran ASI adalah sedang dengan arah positif.
 Berdasarkan hasil penelitian disarankan agar pemerintah dan praktisi kesehatan lebih intensif dalam mempromosikan program Inisiasi Menyusui Dini. Dengan harapan peningkatan pengetahuan masyarakat dapat meningkatkan motivasi dan sikap yang mendukung insiasi menyusu dini karena sangat banyak manfaat yang dapat diperoleh dari inisiasi menyusu dini.

Kata Kunci : Inisiasi Menyusu Dini, Kelancaran ASI

Minggu, 22 Mei 2011

batu saluran kencing

Diposting oleh Amel_Lia

BATU SALURAN KENCING


1. Pengertian
Adanya batu (kalkuli) pada saluran perkemihan dalam ginjal, ureter, atau kandung kemih yang terdiri dari; yang membentuk kristal; kalsium, oksalat, fosfat, kalsium urat, asam urat dan magnesium.
Batu dapat menyebabkan obstruksi,infeksi atau oedema pada saluran perkemihan, kira-kira 75% dari semua batu yang terbentuk terdiri atas; kalsium
Faktor resiko batu ginjal meliputi;stasis perkemihan,infeksi saluran perkemihan, hiperparatiroidismempenyakit infeksi usus, gout, intake kalsium dan vit D berlebih, immobilitas lama dan dehidrasi.
2. Faktor –faktor yang mempengaruhgi pembentukan batu;
a. Faktor Endogen
Faktor genetik,familial pada hypersistinuria,hiperkalsiuria dan hiperoksalouria
b. Faktor Eksogen
Faktor lingkungan,pekerjaan,makanan,infeksi dan kejenuhan mineral dalam air minum
3. Faktor lain;
a. Infeksi
Infeksi saluran kencing dapat menyebabkan nekrosis jaringan ginjal dan akan menjadi inti pembentukan batu saluran kencing . Infeksi bakteri akan memecah ureum dan membentuk amonium yang akan mengubah pH urine menjadi alkali.
b. Stasis dan Obstruksi urine
Adanya obstruksi dan stasis urine akan mempermudah infeksi saluran kencing.
c. Jenis kelamin
Pria lebih banyak daripada wanita
d. Ras
Batu saluran kencing lebih banyak ditemukan di Afrika dan Asia.
e.Keturunan
Annggota keluarga batu saluran kencing lebih banyak mempunyai kesempatan.
f. Air minum
Memperbanyak diuresis dengan cara banyak minum air akan mengurangi kemungkinan terbentuknya batu ,sedangkan kurang minum menyebabkan kadar semua substansi dalam urine meningkat
g. Pekerjaan
Pekerja keras yang banyak bergerak mengurangi kemungkinan terbentuknya batu daripada pekerja yang lebih banyak duduk.
h.Suhu
Tempat yang bersuhu  panas menyebabkan banyak mengeluarkan keringat
i. Makanan
Masyarakat yang banyak mengkonsumsi protein hewani angka morbiditas BSk berkurang  .Penduduk yang vegetarian yang kurang makan putih telur lebih sering menderita BSK ( buli-buli dan Urethra )

4. Patogenesis
Sebagian besar batu saluran kencing adalah idiopatik,bersifat simptomatik ataupun asimptomatik.
5. Teori terbentuknya batu
a. Teori Intimatriks
Terbentuknya BSK. memerlukan adanya substansi organik sebagai inti .Substansi ini terdiri dari mukopolisakarida dan mukoproptein A yang mempermudah kristalisasi dan agregasi substansi pembentukan batu.
b. Teori Supersaturasi
Terjadi kejenuhan substansi pembentuk batu dalam urine seperti; sistin,santin,asam urat,kalsium oksalat akan mempermudah terbentuknya batu.
c. Teori Presipitasi-Kristaliasi
Perubahan pH urine akan mempengaruhi solubilitas substasi dalam urine .Urine yang bersifat asam akan mengendap sistin,santin,asam dan garam urat,urine alkali akan mengendap garam-garam fosfat..
d. Teori Berkurangnya faktor penghambat
Berkurangnya faktor penghambat seperti peptid fosfat, pirofosfatpolifosfat, sitrat magnesium.asam mukopolisakarida akan mempermudah terbentuknya BSK.
6. Pemeriksaan Diagnostik.
a. Urinalisa; warna mungkin kuning ,coklat gelap,berdarah,secara umum menunjukan SDM, SDP, kristal ( sistin,asam urat,kalsium oksalat), ph asam (meningkatkan sistin dan batu asam urat) alkali ( meningkatkan magnesium,  fosfat amonium, atau batu kalsium fosfat), urine 24 jam :kreatinin, asam urat kalsium, fosfat, oksalat, atau sistin mungkin meningkat), kultur urine menunjukan ISK, BUN/kreatinin serum dan urine; abnormal (tinggi pada serum/rendah pada urine) sekunder terhadap tingginya batu obstruktif pada ginjal menyebabkan iskemia/nekrosis.
b. Darah lengkap: Hb,Ht,abnormal bila psien dehidrasi berat atau polisitemia.
c. Hormon Paratyroid mungkin meningkat bila ada gagal ginjal ( PTH. Merangsang reabsobsi kalsiumm dari tulang, meningkatkan  sirkulasi s\erum dan kalsium urine.
d. Foto Rntgen; menunjukan adanya kalkuli atau perubahan anatomik pada area ginjal dan sepanjang urewter.
e. IVP.: memberukan konfirmasi cepat urolithiasis seperti penyebab nyeri,abdominal atau panggul.Menunjukan abnormalitas pada struktur anatomik (distensi ureter).
f. Sistoureterokopi;visualiasi kandung kemih dan ureter dapat menunjukan batu atau efek obstruksi.
g. USG ginjal: untuk menentukan perubahan obstruksi,dan lokasi batu. :
7. Penatalaksanaan;
a. Menghilangkan obstruksi
b. Mengobati infeksi
c. Menghilangkan rasa nyeri.
d. Mencegah terjadinya gagal ginjal dan mengurangi kemungkinan terjadinya rekurensi
8. Komplikasi:
a.Infeksi
b.Obstruksi
c.Hidronephrosis.
9. Asuhan Keperawatan
A.Pengkajian Data Dasar Pada Pasien Dengan Batu Saluran Kencing
1)      Aktivitas/istrirahat
Kaji tentang pekerjaan yang monoton,lingkungan pekerjaan apakah pasien terpapar suhu tinnggi,keterbatasan aktivitas ,misalnya karena penyakit yang kronis atau adanya cedera pada medulla Spinalis.
2)      Sirkulasi
Kaji terjadinya peningkatan tekanan Darah/Nadi, yang disebabkan ;nyeri,ansietas atau gagal ginjal.Daerah ferifer apakah teraba hangat(kulit) merah atau pucat.
3)      Eliminasi
Kaji adanya riwayat ISK kronis.obstruksi sebelumnya(kalkulus)
Penurunan haluaran urinr, kandung kemih penuh, rasa terbekar saat BAK. Keinginan /dorongan ingin berkemih terus, oliguria, haematuria, piuri atau perubahan pola berkemih.
4)      Makanan / cairan;
Kaji adanya mual, muntah, nyeri tekan abdomen, diit tinggi purin, kalsium oksalat atau fosfat, atau ketidak cukupan pemasukan cairan tidak cukup minum, terjadi distensi abdominal, penurunan bising usus.
5)      Nyeri/kenyamanan
Kaji episode akut nyeri berat, nyeri kolik.lokasi tergantung pada lokasi batu misalnya pada panggul di regio sudut kostovertebral dapat menyebar ke punggung, abdomen, dan turun ke lipat paha’genetalia, nyeri dangkal konstan menunjukan kalkulus ada di pelvis atau kalkulus ginjal. Nyeri yang khas adalah nyeri akut tidak hilang dengan posisi atau tindakan lain, nyeri tekan pada area ginjal pada palpasi .
6)      Keamanan
Kaji terhadap penggunaan alkohol perlindungan saat demam atau menggigil.
7)       Riwayat Penyakit :
Kaji adanya riwayat batu saluran kemih pada keluarga, penyakit ginjal, hipertensi, gout, ISK kronis, riwayat penyakit, usus halus, bedah abdomen sebelumnya, hiperparatiroidisme, penggunaan antibiotika, anti hipertensi, natrium bikarbonat, alupurinol, fosfat, tiazid, pemasukan berlebihan kalsium atau vitamin D.
8)      Diagnosa Keperawatan yang mungkin muncul adalah ;
1) Nyeri akut b/d peningkatan frekuensi/dorongan kontraksi uroteral,trauma jaringan, pembentukan oedema, iskemia seluler.
2) Perubahan eliminasi urine b/d stimulasi kandung kemih oleh batu, iritasi ginjal atau ureteral, inflamsi atau obstruksi mekanik.
3) Resiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan b/d mual muntal, diuresis paska obstruksi.
4) Kurang pengetahuan tentang diet, kebutuhan pengobatan b/d tidak mengenal sumber informasi.

RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN

NO.
Diagnosa Keperawatan

Tujuan-Kriteria yang diharapkan
Intervensi
Rasional
1.
Nyeri akut b/d peningkatan frekuensi /dorongan kontraksi ureteral,trauma jaringan,pembentukan edema,iskemia seluler.
Nyeri hilang dengan spasme terkontrol.

Kriteria ;
-          Pasien tampak rileks.
-          Pasien mampu tidur/istirahat dengan tenang
-          Tidak gelisah,tidak merintih
Catat lokasi,lamanya intensitas,penyebaran,perhatikan tanda-tanda non verbal,misalnya merintih,mengaduh dan gelisahansietas.
Jel askan penyebab nyeri dan perubahan karakteristik nyeri.



Berikan tindakan nyaman,misalnya pijatan punggung,ciptakan lingkungan yang tenang.
Bantu atau dorong penggunaan nafas berfokus
Bantu dengan ambulasi sering s/d indikasi tingkatkan pemasukan cairan sedikitnya 3-4 lt/hariatau s/d indikasi.
Perhatikan keluhanpeningkatan/menetapnya nyeri abdomen.
Berikan kompres hangat pada punggung
.
KOLABORASI:
Berikan obat sesuai dengan indikasi
-          Narkotik
-           
-          Antispasmodik


-          Kortikosteroid


Pertahankan patensi kateter bila digunakan.
Evaluasi tempat obstruksi dan kemajuan gerakan kalkulus




Membantu dalam meningkatkan kemampuan koping pasien serta menurunkan ansietas

Meningkatkan relaksasi,menurunkan tegangan otot,



Mengarahkan kembali perhatiandan membantu dalam relaksasi otot.
Meningkatkan lewatnya batu,mencegah stasis urine,mencegah pembentukan batu selanjutnya.


Obstruksi lengkap ureter dpt.menyebabkab ferforasi,dan ekstravasasi urine ke dalam area perirenal.




Dipakai selama episode akut,untuk menurunkan kolik ureter dan relaksasi otot.
.Menurunkan refleks spasme shg. Mengurangi nyeri dan kolik.
Menurunkan edema  jaringan ,shg. Membantu gerakan batu.
Mencegah stasis urine,menurunkan resiko peningkatan tekanan ginjal dan infeksi.
.
2.
Perubahan eliminasi urine b/d stimulasi kandung kemih oleh batu,iritasi ginjal,atau ureter,obstruksi mekanik atau inflamsi.
Perubahan eliminasi urine tidak terjadi

Kriteria :
-          Haematuria tidak ada.
-          Piuria tidak terjadi
-          Rasa terbakar tidak ada.
-          Dorongan ingin berkemih terus berkurangi.
Awasi pemasukan dan pengeluaran serta karakteristik urine

Tentukan pola berkemih normal.



Dorong meningkatkan pemasukan cairan

Catat adanya pengeluaran dalam urinek/p kirim ke lab untuk dianalisa.
Observasi keluhan kandung kemih,palpasi dan perhatikan output,dan edema.
Obserevasi perubahan status mental.,prilaku atau tingkat kesadaran.

Kolaborasi ;
Monitoring pem.Lab,BUN.kreatinin

Ambil urine untuk kultur dan sensitivitas
Berikan obat sesuai dgn program;
-          diamox, alupurinol

-          Esidrix, Higroton

-          Amonium Klorida,Kalium,,atau Natrium,fosfat,.

-          Agen antigon, (Ziloprim)


-          Antibiotik

-          Nabic

-          Asam Askorbat

-          Pertahankan patensi kateter.

Irigasi dgn. Asam atau larutan alkalin.
Evaluasi fungsi ginjal dgn.memerhatikan tanda-tanda komplikasimisalnya infeksi,atau perdarahan.
Kalkulus dpt.menyebabkan eksitabiliats saraf,yg.menyebabkan kebutuhan sensasi berkemih .segera.
Membilas bakteri,darah.dan debris,membantu lewatnya batu.
Identifikasi tipe batudan alternatif terapi

Retensi urine,menyebabkan distensi jaringan.,potensial resiko infeksi dan GGK.
Ketidakseimbangan elektrolit dpt.menjadi toksik pada SSP.


Peninggian BUN,indikasi disfungsi ginjal.



Evaluasi adanya ISK.atau penyebab komplikasi.



Meningkatkan pH.urine menurunkan pembentukan batu asam.
Mencegah stasis urine

Menurunkan pembentukan batu fosfat



Menurunkan produksi asam urat


Adanya ISK potensuial pembentukan batu.
Mencegah pembentukan beberapa kalkuli.
Mencegah berulangnya pembentukan batu alkalin.
Mencegah retensi,dan komplikasi.
Mengubah pH.urine mencegah pembentukan batu.
3.
Resiko tinggi kekurangan volume cairan b/d mual,muntah,diuresis pascaobstruksi.
Keseimbangan cairan adekuat

Kriteria :
-          Intake dan output seimbang
-          Tanda vital stabil (TD 120/80 mmHg. Nadi 60-100, RR16-20, suhu 36.5°-37°C)
-          -Membran mukosa lembab
-          Turgor kulit baik.
Catat insiden muntah, diare, perhatikan karakteristik, dan frekuensi.
Tingkatkan pemasukan cairan
3-4 lt / hari dalam toleransi jantung.

Awasi tanda vital, evaluasi nadi, turgor kulit dan membran mukosa.

Timbang berat badan tiap hari
Kolaborasi:
Awasi Hb,Ht,elektrolit,
Berikan cairan IV

Berikan diet tepat,cairan jernih,makanan lembut s/d toleransi

Berikan obat s/d indikasi antiemetik,(misal compazin )

Mengesampingkan  kejadian abdominal lain.



Mempertahankan keseimbangan cairan dan homeostasis.


Penurunan LFG.merangasang produksi renin, yg. Bekerja meningktakan TD.
Peningkatan BB.yang cepat,waspada retensi
Mengkaji hidrasi, kebutuhan intervensdi.

Mempertahankan volume sirkulasi
Mempertahnakan keseimbangan nutruisi.



Menurunkan mual muntah
4.
Kurang pengetahuan tentang diet, dan kebutuhan pengobatan
Pasien dapat memahami tentang diet,dan program pengobatan

Kriteria :
-          Berpartisipasi dalam program pengobatan
-          Menjalankan diet
Kaji ulang proswes penyakit dan harapan masa datang

Kaji ulang program diet, sesuai dengan indikasi


Diskusikan tentang:
Pemberian  diet rtendah purin,(membatasi daging berlemak,kalkun,tumbuhan polong,gandum,alkohol)
Pemberian diet rendah Ca.(membatasi susu,keju,sayur hijau,yogurt.)
Pemberian diet rendah oksalat membatasi konsumsi coklat,minuman kafein,bit,bayam.
Diskusikan program obat-obatan ,hindfari obat yang dijual bebas dan baca labelnya.
Tunjukan perawatan yang tepat thd.insisi/kateter bila ada.
Memberikan pengetahuan dasar,membuat pilihan berdasarkan informasi
Pemahaman diet,memberikan kesempatan untuk memilih sesuai dgn. Informasi,mencegah kekambuhan.
Menurunkan pemasukan oral thd.prekursor asam urat





Menurunkan resikopembentukan batu kalsium.


Menurunkan pembentukan batu oksalat.


Obat yang diberikan untuk mengasamkan urin,atau mengalkalikan,menghindari produk kontraindikasi.

DAFTAR PUSTAKA


Carpenito, Linda Juall (1995) Rencana Asuhan & Dokumentasi Keperawatan
( terjemahan) PT EGC, Jakarta.

Doenges,et al, (2000). Rencana Asyuhan Keperawatan ( terjemahan),
PT EGC, Jakarta

Soeparman, ( 1990), Ilmu Penyakit Dalam Jilid II, Balai Penerbit FKUI, Jakarta.

ANALISA DATA
Nama  :Tn. FL.
Umur  :55tahun.

No
Data
Masalah
Penyebab

 
1.
S: Klien mengeluh sakit,terutama pada daerah operasi saat duduk,berjalan atau berdiri.
O:
Suhu:37.1.daerah luka operasi :merah(-),bengkak(-)Pus(-)luka operasi kering
Lab.Urine (06-01-02)
Leuko :500 U, mg,, (08-01-02) Leukosit16000.
Resiko terjadi infeksi pada luka operasi Nephrolitotomi.
Luka Op.

Proses penyemb.luka.



F.Endogen.  F.Eksogen


-status      lingkungan
gizi.          Personal h                    
Immunitas
Peny.kronik




I.                    


RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN
NAMA KLIEN :Tn. FL.
UMUR                       55th.

No
Diagnosa Keperawatan
Tujuan-Kriteria hasil
Intervensi
Rasional

Resiko terjadi infeksi pada luka bedah Nephrolitotomi berhubungan dengan faktor endogen dan exogen,ditandai dengan:klien mengeluh sakit pada daerah luka operasi terutama kalau duduk,berdiri atau berjalan,sh,37,1 C,merah(-),bengkak (-)Pus(-)terlihat luka operasi kering,lab (06-01-02)Urine :Leuko,500,.labDL(08-01-02)Leukosit 16000..
Setelah dilakukan perawatan,infeksi pada luka operasi tidak terjadi:
Sh.:36.C-37.2C,Luka operasi kering,tidak ada Pus,tidak merah,tidak bengkak,tidaknyeri,leuko 5-10(ribu)
a.       Kaji tanda –tanda infeksi lokal pada luka bedah.
b.      Rawat luka bedah dgn tehnik aseptik dan antiseptik
c.       Hindari agar luka jaga kena air.
d.      Berikan antibiotika (xefotaxim s/d prog.pengobatan)
e.       Ingatkan pasien untuk tidak menyentuh daerah luka.
f.       Observasi tanda-tanda vital(suhu)
Antisipasi terjadinya infeksi pada luka bedah.
Mengurangi faktor penyebab infeksi.
Mengurangi faktor penyebab in
feksi.



TINDAKAN KEPERAWATAN

No
Tanggal/Jam
Tindakan Keperawatan
Perawat




















II.                 

III.              

EVALUASI

No
Tanggal/Jam
EVALUASI
Perawat