jumlah pengunjung blog

jumlah pengunjung blog

google translet

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Laman

Jumat, 11 Maret 2011

askep phimosis

Diposkan oleh Amel_Lia

BAB I
PEBDAHULUAN


1.1      Latar Belakang
Phimosis adalah suatu keadaan dimana prepusium tidak bisa ditarik ke belakang, bisa dikarenakan keadaan sejak lahir atau karena patologi. Pada usia bayi glan penis dan prepusium terjadi adesi sehingga lengket jika terdapat luka pada bagian ini maka akan terjadi perlengketan dan terjadi Phimosis biasanya pada bayi itu adalah hal yang wajar karena keadaan tersebut akan kembali seperti normal dengan bertambahnya umur dan produksi hormon.
Beberapa penelitian mengatakan kejadian Phimosis saat lahir hanya 4% bayi yang preputiumnya sudah bisa ditarik mundur sepenuhnya sehingga kepala penis terlihat utuh. Selanjutnya secara perlahan terjadi desquamasi sehingga perlekatan itu berkurang. Sampai umur 1 tahun, masih 50% yang belum bisa ditarik penuh. Berturut-turut 30% pada usia 2 tahun, 10% pada usia 4-5 tahun, 5% pada umur 10 tahun, dan masih ada 1% yang bertahan hingga umur 16-17 tahun. Dari kelompok terakhir ini ada sebagian kecil yang bertahan secara persisten sampai dewasa bila tidak ditangani.
Bila Phimosis menghambat kelancaran berkemih seperti pada ballooning maka sisa-sisa urin mudah terjebak pada bagian dalam preputium dan lembah tersebut kandungan glukosa pada urine menjadi lading subur bagi pertumbuhan bakteri, maka berakibat terjadi infeksi saluran kemih (UTI).
Berdasarkan data tahun 1980-an dilaporkan bahwa anak yang tidak disirkumsisi memiliki resiko menderita UTI 10-20 kali lebih tinggi. Tahun 1993, dituliskan review bahwa resiko terjadi sebesar 12 kali lipat. Tahun 1999 dalam salah satu bagian dari pernyataan AAP tentang sirkumsisi disebutkan bahwa dari 100 anak pada usia 1 tahun. 7-14 anak yang tidak sirkumsisi menderita sedang hanya 1-2 anak pada kelompok yang disirkumsisi. Dua laporkan jurnal tahun 2001 dan 2005 mendukung bahwa sirkumsisi dibawah resiko UTI.
         
1.2      Rumusan Masalah
Dari uraian diatas dapat ditarik Rumusan masalah sebagai berikut :
1.      Pengertian Phimosis ?
2.      Etiologi dan patologi Phimosis ?
3.      Manifestasi klinis dan komplikasi Phimosis ?
4.      Penatalaksanaan dan perawatan Phimosis ?

1.3      Tujuan
1.3.1        Tujuan Khusus
Untuk memenuhi tugas Keperawatan Medical Bedah III dan semoga kami sebagai penyusun dapat mengambil manfaat serta dapat memperluas wawasan pada pasien dengan diagnosa medis Phimosis pada khususnya.
1.3.2        Tujuan Umum
-       Untuk menambah pengetahuan tentang penyakit Phimosis.
-       Untuk mempermudah dalam pembuatan asuhan keperawatan pada pasien Phimosis.  

1.4      Manfaat
1.4.1        Bagi Penyusun
-       Dapat belajar dalam penyusunan keperawatan Phimosis
-       Dapat menambah ilmu dalam pembentukan makalah di bidang kesehatan.
1.4.2        Bagi Pendidikan
Sebagai sumbangsih dalam makalah asuhan keperawatan di bidang kesehatan urologi.
1.4.3        Bagi Pembaca
Sebagai sedikit pengetahuan tentang asuhan keperawatan bidang kesehatan urologi.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA


2.1      Definisi
Phimosis adalah suatu keadaan dimana prepusium penis yang tidak dapat diretaksi keproximal sampai ke korona glandis.

2.2      Etiologi
a.       Konginetal (fimosis fisiologis)
Fimosis kongenital (fimosis fisiologis) timbul sejak lahir sebenarnya merupakan kondisi normal pada anak-anak, bahkan sampai masa remaja. Kulit preputium selalu melekat erat pada glans penis dan tidak dapat ditarik ke belakang pada saat lahir, namun seiring bertambahnya usia serta diproduksinya hormon dan faktor pertumbuhan terjadi proses keratinisasi lapisan epitel dan deskuamasi antara glans penis dan lapis glan dalam preputium sehingga akhirnya kulit preputium terpisah dari glan penis. Suatu penelitian mendapatkan bahwa hanya 4% bayi seluruh kulit preputiumnya dapat ditarik ke belakang penis pada saat lahir, namun mencapai 90% pada saat usia 3 tahun dan hanya 1% laki-laki berusia 17 tahun yang masih mengalami fimosis kongenital. Walaupun demikian, penelitian lain mendapatkan hanya 20% dan 200 anak laki-laki berusia
5-13 tahun yang seluruh kulit preputiumnya dapat ditarik ke belakang penis.
b.      Fimosis didapat (fimosis patologik, fimosis yang sebenarnya, true phimosis) timbul kemudian setelah. Hal ini berkaitan dengan kebersihan hygiene) alat kelamin yang buruk, peradangan kronik glans penis dan kulit preputium (balanoposthitis kronik), atau penarikan berlebihan kulit preputium (forceful retraction) pada timosis kongenital yang akan menyebabkan pembentukkan jaringan ikat (fibrosis) dekat bagian kulit preputium yang membuka.
2.3      Patofisiologi
 




2.4      Gejala Klinis
1.      prepusium tidak bisa ditarik ke belakang
2.      Balloning
3.      Sakit saat berkemih
4.      Sulit kencing
5.      Pancaran kencing sedikit

2.5      Komplikasi
Jika tidak segera ditangani bisa menyebabkan  :
1.      Infeksi gland penis
2.      Infeksi prepusium
3.      Infeksi prepusium & Infeksi gland penis
 
2.6      Penatalaksanaan
-       Tidak dianjurkan melakukan retraksi yang dipaksakan, karena dapat menimbulkan luka dan terbentuk sikatriks pada ujung prepusium sehingga akan terbentuk fimosis sekunder.
-       Fimosis disertai balanitis xerotica obliterans dapat diberikan salep dexamethasone 0,1% yang dioleskan 3/4 kali, dan diharapkan setelah 6 minggu pemberian prepusium dapat diretraksi spontan.
-       Fimosis dengan keluhan miksi, menggelembungnya ujung prepusium pada saat miksi atau infeksi postitis merupakan indikasi untuk dilakukan sirkumsisi, dimana pada fimosis disertai balanitis/postitis harus diberikan antibiotika terlebih dahulu.

2.7      Prinsip terapi dan manajemen keperawatan
1.      Perawatan Rutin
2.      Kebersihan penis
Penis harus dibasuh secara seksama dan bayi tidak boleh ditinggalkan berbaring dengan popok basah untuk waktu yang lama.    
3.      Phimosis dapat diterapi dengan membuat celah dorsal untuk mengurangi obstruksi terhadap aliran keluar.   
4.      Sirkumsisi
Pada pembedahan ini, kelebihan kutup diangkat. Digunakan jahitan catgut untuk mempertemukan kulit dengan mukosa dan mengikat pembuluh darah. 
5.      Perawatan Pra Bedah Rutin
6.      Perawatan Pasca Bedah
Pembedahan ini bukan tanpa komplikasi dan Observasi termasuk adanya perdarahan. Pembalut diangkat jika basah dengan urin dan lap panggul berguna untuk membersihkan penis dan mendorong terjadinya penyembuhan. Popok perlu sering diganti.
Komplikasi yang terjadi termasuk ulserasi meatus. Ini terjadi sebagai akibat amonia yang membakar epithelium glans. Untuk menimbulkan nyeri pada saat berkemih kadang-kadang adanya perkembangan perdarahan dan retensi urin. Ulserasi meatus dapat menimbulkan stenosis meatus. Hal ini dapat diterapi dengan meatotomi dan dilatasi.
7.      Bimbingan bagi orang tua.
Instruksi yang jelas harus diberikan pada  orang tua jika bayi atau anak siap untuk pulang kerumah. Ini termasuk hygiene dari daerah dan pengenalan setiap komplikasi. Mereka juga harus diberikan pedoman untuk pencegahan dermatitis amonia dan jika hal ini terjadi bagaimana untuk mengobatinya.

2.8      Asuhan Keperawatan Phimosis
Asuhan Keperawatan pasien dengan Phimosis melalui pendekatan proses Keperawatan yang terdiri dari pengkajian Keperawatan, perencanaan Keperawatan, penatalaksanaan dan evaluasi keperawatan.


2.9      Pengkajian Keperawatan
Pengumpulan data
Data dasar yang berhubungan dengan Phimosis adalah sebagai berikut :
-       Nyeri saat berkemih
-       Balloning
-       Retensi Urine

2.10  Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan disusun menurut prioritas masalah adalah sebagai berikut :
1.      Gangguan rasa nyaman (Nyeri) sampai penekanan pada saat berkemih.
2.      Gangguan Eliminasi urine sampai retensi urine.
3.      Resiko infeksi saluran kemih sampai penumukan smegma di ujung penis.
    
2.11  Perencanaan Keperawatan
1.      Gangguan rasa nyaman (nyeri) sampai penekanan pada saat berkemih
Tujuan           :
Klien mengatakan nyeri berkurang atau tidak merasa nyeri
Intervensi      :
-       Kaji skala nyeri
R/ untuk mengetahui tingkat nyeri pasien sebagai pedoman untuk tindakan yang harus diberikan.     
-       Ajarkan teknik relaksasi
R/  merelaksasikan otot-otot sehingga suplai darah ke jaringan terpenuhi. 
-       Kolaborasi dengan tim medis tentang pemberian obat
R/ obat (anti plasmadik) untuk merelaksasikan otot-otot polos
2.      Gangguan eliminasi urine sampai retensi urine
Tujuan           :
Klien mengatakan tidak ada hambatan aliran urine
Intervensi      :
-       Kaji haluan urine
R/ retensi urine dapat terjadi karena adanya sumbatan 
-       Perhatikan waktu
R/ untuk mengetahui output pasien
-       Dorong klien untuk berkemih bila terasa ada dorongan tetapi tidak lebih dari 30 menit
R/ penahanan urine selama > 30 menit bias merusak sel kemih
3.      Resiko infeksi saluran kemih sampai penumpukan urine diujung penis
Tujuan           :
Tidak terjadi infeksi saluran kemih
Intervensi      :
-       Lihat tanda-tanda infeksi
R/ untuk mengetahui tindakan yang harus dilakukan.
-       Konsul dengan tim medis tentang prosedur sirkumsisi
R/ sirkumsisi mencegah infeksi saluran kemih (UTI)


BAB III
PENUTUP


3.1       Kesimpulan
Pimosis adalah suatu keadaan dimana preposium tidak bisa ditarik bisa dikarenakan konginetal atau didapat. Tetapi biasanya kondisi tersebut bisa normal dengan ditambahnya produksi hormon dan pertumbuhan.
Pimosis dapat mengakibatkan gangguan berkemih baik nyeri atau balloning (masa diujung penis) perlu dilakukan sirkumsisi biasanya itu merupakan indikasi untuk mencegah infeksi karena terkumpulnya urine yang mengandung glukosa sebagai tempat terbaik bagi pertumbuhan bakteri.

3.2       Saran
Jika ada anak mengalami gejala seperti gejala pimosis untuk segera mendapat penanganan untuk mencegah terjadi infeksi saluran kemih (UTI)


0 komentar:

Poskan Komentar