jumlah pengunjung blog

jumlah pengunjung blog

google translet

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Laman

Jumat, 11 Maret 2011

askep varises

Diposkan oleh Amel_Lia

BAB I
PENDAHULUAN
1.1.  Latar Belakang
Varises berkaitan dengan pembuluh darah balik ( vena ) yang berfungsi mengangkut darah sisa metabolisme dari seluruh jaringan tubuh ke jantung. Vena normal dengan katub yang baik akan membuat darah mengalir lancar ke jantung. Pada varises, katub dalam vena yang berfungsi untuk mencegah darah kembali ke seluruh tubuh tidak berfungsi sehingga darah yang harusnya mengalir ke jantung malah kembali lagi keseluruh tubuh. Darah yang tidak 100% kembali ke jantung akan menggumpul hingga menyebabkan penurunan elastisitas dinding vena.
Varises selain terjadi pada betis bisa juga terjadi pada saluran mulut ke perut atau esofagus. Varises di esofagus seringkali berhubungan dengan kerusakan fungsi hati. Kerusakan sel hati menggangu kemampuannya menyaring darah akibatnya aliran darah ke hati tidak lancar dan terbentuklah tonjolan pembuluh darah. Pecahnya pembuluh darah di esofagus sangat berbahaya karena darah dapat masuk ke saluran pernafasan. Varises juga bisa terjadi di jalan lahir bayi akibatnya bayi tidak bisa dilahirkan secara normal karena dapat mengakibatkan varises pecah dan pendarahan.
Wanita lebih rentan terkena varises dibanding pria. Selain kotraksi venanya lebih lemah, kulit wanita juga lebih lunak, faktor hormonal saat pubertas, kehamilan, menopause dan seringnya memakai sepatu berhak tinggi.
Ada beberapa tahapan pada varises. Pada tahap awal penderita akan merasa pegal dan kram bila berdiri terlalu lama. Namun jika diperiksa secara klinis belum terlihat tanda-tandanya. Pada tahap selanjutnya, mulai terlihat adanya kelainan pembuluh darah, kaki terasa berat, terasa pegal sekalipun sedang beristirahat. Pada tahap yang paling berat timbul pembengkakan di kaki dan kulit akan berwarna gelap.
Sekalipun jarang terjadi varises bisa mengancam jiwa bila ada darah beku yang terbawa ke jantung dan paru. Komplikasi lain adalah pecahnya vena. Varises ringan dapat disembuhkan dengan obat-obatan, memakai kaos kaki khusus dan olah raga. Skleroterapi digunakan untuk mengobati varises ringan atau apider navy. Dengan cara menyuntik vena dengan zat yang akan menciutkan dan merusak vena sehingga aliran tersumbat sepenuhnya. Aliran darah tersebut akan dialihkan ke vena lain yang sehat. Bila suntikan tidak dapat dilakukan karena varises sudah terlalu parah perlu dilakukan pembedahan ( stripping ). Dalam tindakan ini vena diikat atau seluruh vena yang rusak diangkat lalu kaki dibebat erat. Bila anda terkena varises segera berkonsultasilah pada dokter jangan menggunakan sembarang obat.
1.2. Tujuan
1.2.1.      Tujuan Umum
 Untuk mengetahui penyakit varises atau vena varikosa.
1.2.2.      Tujuan Khusus
-          Mengetahui pengertian dari varises
-          Untuk mengetahui klasifikasi dari varises
-          Untuk mengetahui factor pemicu varises
-          Untuk mengetahui gambaran klinis varises
-          Untuk mengetahui cara mengatasi varises
1.3.Manfaat
-          Agar mahasiswa dapat memahami pengertian dari varises
-          Agar mahasiswa dapat  mengetahui klasifikasi dari varises
-          Agar mahasiswa dapat  untuk mengetahui factor pemicu varises
-          Agar mahasiswa dapat  untuk mengetahui gambaran klinis varises
-          Agar mahasiswa dapat  untuk mengetahui cara mengatasi varises




BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1.   Pengertian
Istilah varises menunjukkan adanya dilatasi vena yang biasanya disertai vena yang memanjang dan berkelok- kelok Bila pada kaki terlihat urat-urat halus menyembul di seputar betis belakang, bisa jadi terkena kelainan yang disebut varises. Kelainan ini terjadi di pembuluh darah balik (vena) yang berfungsi mengangkut darah sisa metabolisme dari seluruh jaringan tubuh dan kembali ke jantung. Varises menyebabkan sirkulasi darah menjadi tak lancar, karena terhambat di sekitar betis dan tungkai kaki saat menahan berat tubuh. Selain di bagian kaki, belakangan diketahui bahwa ternyata varises pun bisa terjadi di bagian lengan. Penggunaan sepatu berhak tinggi dalam waktu lama, telah lama ditengarai sebagai penyebab utama munculnya varises pada kaki. Tapi ternyata, hak tinggi bukan satu-satunya penyebab.
Varises atau vena varikosa adalah vena- vena yang melebar dan berkelok- kelok yang terjadi di tempat darah berkumpul dan biasanya di tungkai. Karena aliran darah di vena didorong oleh kontraksi otot- otot rangka di sekitarnya yang memeras darah untuk kembali ke jantung, maka berlama- lama berdiri tanpa kontraksi otot dapat menyebabkan penimbunan darah di tungkai. Varises juga dapat timbul apabila katup yang secara normal mencegah arus balik darah menjadi terlalu lemah dan kalah sehingga darah lebih banyak yang kembali. Apabila katup tersebut kalah maka darah akan tetap mengisi penuh vena- vena dibawahnya.
Incompetensi (kelemahan) katup dapat merupakan predisposisi herediter, atau timbul akibat trauma pada katup. Kegemukan ikut berperan serta menimbulkan resiko pembentukan vena varikosa karena berkaitan dengan gaya hidup yang tidak banyak bergerak dan peningkatan volume darah yang menekan katup. Demikian juga wanita hamil beresiko lebih besar mengalami varises karena peningkatan volume darah tubuh.



2.2.   Klasifikasi
Menurut Sabiston Vena varikosa diklasifikasikan menjadi:
a.          Vena varikosa primer, merupakan kelainan tersendiri vena superficial ekstremitas bawah.
       Penyebab varises primer tampaknya adalah kelemahan struktur herediter  dari dinding pembuluh darah. Dilatasi dapat disertai gangguan katup vena karena daun katup tidak mampu menutup dan menahan aliran refluks. Varises primer cenderung terjadi pada vena- vena superfisialis karena kurangnya dukungan dari luar atau kurangnya tahanan dalam jaringan subkutan.
b.         Vena varikosa sekunder, merupakan manifestasi insufisiensi vena profunda dan disertai dengan beberapa stigmata insufisiensi vena kronis, mencakup edema, perubahan kulit, dermatitis stasis dan ulserasi. Kerusakan katup vena pada system vena profunda akan mengganggu aliran darah menuju jantung, statis yang timbul dan penimbunan darah menyebabkan hipertensi vena profunda. Jika katup vena penghubung tidak berfungsi maka peningkatan tekanan sirkuit vena profunda akan menyebabkan aliran balik darah ke dalam vena penghubung.
Selain penyebab diatas, varises juga dapat disebabkan oleh :
·         Berkurangnya elastisitas dinding pembuluh vena yang menyebabkan pembuluh vena melemah dan tak sanggup mengalirkan darah ke jantung sebagaimana mestinya. Aliran darah dari kaki ke jantung sangat melawan gravitasi bumi, karena itu pembuluh darah harus kuat, begitu juga dengan dinamisasi otot disekitarnya.
·         Rusaknya katup pembuluh vena, padahal katup atau klep ini bertugas menahan darah yang mengalir ke jantung agar tidak keluar kembali. Katup yang rusak membuat darah berkumpul di dalam dan menyebabkan gumpalan yang mengganggu aliran darah.



2.3.   Faktor Pemicu varises :
1.  Faktor keturunan
     Varises biasanya terjadi saat dewasa akibat perubahan hormon dan bertambahnya berat badan. Varises yang terjadi di usia muda, kemungkinan besar disebabkan faktor keturunan.
2.   Kehamilan
      Meningkatnya hormon progesteron dan bertambahnya berat badan saat hamil yang kaki semakin terbebani, akibatnya aliran darah dari kaki, tungkai, pangkal paha dan perut bagian bawah pun terhambat.
3.   Kurang gerak
      Gaya hidup perkotaan yang kurang gerak, menyebabkan otot sekitar pembuluh darah vena tidak mampu memompa darah secara maksimal.
4.   Merokok
      Kandungan zat berbahaya dalam rokok membuat pembuluh darah menjadi kaku dan terjadi penyempitan, sehingga dinding pembuluh tidak elastis lagi.
5.   Terlalu banyak berdiri
      Berdiri terlalu lama membuat kaki terlalu berat menahan tubuh dan memperparah beban kerja pembuluh vena dalam mengalirkan darah. Bila profesi Anda mengharuskan banyak berdiri, usahakan untuk tidak berdiri dengan posisi statis (diam), tapi tetap bergerak. Misalnya dengan berjalan di tempat, agar otot tungkai dapat terus bekerja memompa darah ke jantung.

6.   Menderita kolesterol tinggi dan kencing manis
      Kedua jenis penyakit ini berhubungan erat dengan masalah peredaran darah, kelainan pembuluh darah dan kegemukan yang memicu terjadinya varises.
7.   Memakai sepatu hak tinggi
      Hak sepatu yang terlalu tinggi membuat gerak otot tumit yang berfungsi membantu kerja pembuluh darah, menjadi tidak maksimal.
2.4.  Gambaran Klinis
Gambaran klinis varises berupa vena yang menonjol dan melebar serta memperlihatkan garis- garis kebiruan dan gelembung di tungkai. Varises dapat menimbulkan nyeri tumpul ringan pada tungkai terutama menjelang malam. Rasa tidak nyaman biasanya berkurang dengan mengangkat kaki dan memakai kaos kaki penahan yang elastis. Rasa tidak nyaman karena varises sekunder cenderung lebih berat. Diagnosis varises vena mudah dilakukan dan didasarkan pada observasi dan palpasi vena yang berdilatasi. Gejala terjadinya varises antara lain:
·   Mula-mula kaki dan tungkai terasa berat, diikuti otot yang mudah pegal, kaku, panas dan sakit di seputar kaki maupun tungkai. Biasanya rasa sakit dirasakan menjelang malam, akibat tidak lancarnya aliran darah.
·   Mudah kram, meski kaki dalam kondisi santai.
·   Muncul pelebaran pembuluh darah rambut yang mirip jaring laba-laba (spider navy).
·   Perubahan warna kulit (pigmentasi) di seputar mata kaki, akibat tidak lancarnya aliran darah. Kadang diikuti dengan luka di sekitar mata kaki yang sulit sembuh.
·   Kaki bengkak (edema) karena adanya pembendungan darah.
·   Perubahan pada pembuluh vena luar, misalnya di betis bagian belakang tampak urat kebiru-biruan dan berkelok-kelok. Keadaan ini merupakan gejala varises kronis.
2.5    Patofisiologi
Distensi vena ekstremitas bawah yang berdinding relative tipis secara berlebihan , terus-menerus dan lama, menimbulkan pembesaran dimensi tranversa dan longitudinal. Pembesaran longitudinal mengakibatkan berkelok-keloknya vena subkutis yang khas, distensi transversa mengakibatkan pembendungan yang terlihat dan dapat dipalpasi yang bertanggung jawab untuk gambaran kosmetik dan simtomatik. Patofisiologi vena varikosa adalah kehilangan kompetensi katup.
2.5.1 Komplikasi
a.  Trauma pada nervus safenus dan suralis dengan diserta hiperestesia kulit
b. Pembentukan hematoma subkutis dan kadang-kadang stripiing arteri tak sengaja
c.  Dapat terbentuk bekuan darah karena resiko pembentukan bekuan darah meningkat apabila terjadi pengumpulan atau aliran darah melambat.
d.             Terjadi insufisiency vena kronik apabila darah yang terkumpul di system vaskuler cukup banyak untuk secara bermakna menurunkan curah jantung, akan muncul edema di kaki dan pergelangan tangan.
2.6. Cara mengatasi varises
A.  Varises jenis spider navy.
Varises ini tergolong ringan, biasanya akibat suhu yang terlalu panas atau dingin, terpapar sinar matahari terus menerus, sedang hamil, faktor keturunan, kebiasaan makanan sarat rempah dan pedas, serta pengobatan hormonal.
Varises jenis ini bisa terjadi di beberapa tempat, yaitu di wajah, pangkal lengan, paha, daerah lutut, pergelangan kaki dan tumit. Terapi yang digunakan biasanya dengan memakai sinar laser, sehingga pembuluh darah mengering. Ada juga terapi alat listrik dengan memasukkan zat tertentu ke dalam kulit, untuk mengecilkan atau mengerutkan pembuluh darah.
  1.   Varises dalam kulit.
Varises ini terjadi pada pembuluh vena yang halus dan tipis di dalam kulit bagian kaki. Mengobatinya, dokter memberi obat-obatan yang menguatkan dinding vena dan memperlancar aliran darah, atau menggunakan stocking khusus varises.
Stocking ini berfungsi menekan pembuluh vena sehingga otot dan dinding vena bisa kembali bekerja maksimal. Stocking mampu mencegah, mengurangi gejala awal, dan rasa sakit penderitanya meski hanya temporer. Jadi, tetap harus minum obat.
  1.   Varises Reticular Varicose Veins
Ini adalah varises yang lebih parah, karena terjadi di pembuluh vena bawah kulit. Untuk mengobatinya, dokter akan melakukan beberapa tahap:
1.            Memberi obat yang diminum untuk menguatkan dinding vena dan melancarkan peredaran darah.
2.            Memberikan suntikan zat iritasi ke dalam pembuluh darah yang rusak atau melebar.
3.            Obat tersebut akan membentuk jaringan ikat sekaligus menutup aliran darah, sehingga pembuluh darah vena akan menyempit. Darah akan mencari ‘jalan lain’ melalui pembuluh vena yang normal.
4.            Setelah disuntik, Anda harus menggunakan stocking varises dan tidak boleh menggunakan sepatu hak tinggi.
5.            Olahraga yang dianjurkan adalah jalan kaki, berenang dan joging, agar otot kaki mampu berkontraksi dengan baik.
  1.   Varises kronis.
Varises tahap ini akan memperlihatkan pembuluh darah yang berkelok-kelok di betis. Bila suntik tidak membuahkan hasil, maka harus dilakukan pembedahan guna memotong pembuluh vena yang rusak sehingga aliran darah kembali normal.
Ada berbagai obat-obatan yang harus Anda minum untuk menguatkan dinding vena dan melancarkan peredaran darah. Stocking varises juga harus dikenakan selama beraktivitas, tidak memakai sepatu hak tinggi dan berolahraga dengan melatih gerak otot kaki dan tungkai.
2.6.1 Terapi dan Tindakan
Metode fisik seperti penahan elastis untuk mengurangi stasis vena harus digunakan untuk mengurangi varises. Suntikan dengan obat sklerosan dapat dipertimbangkan untuk diberikan pada varises kecil yang asimptomatik sklero terapi saat ini tetapi saat ini hanya sedikit berperan. Pembedahan dapat diindikasikan untuk memperbaiki penampilan ekstremitas bawah, menghilangkan rasa tidak nyaman, atau menghindari tromboplebitis superficialis rekuren. Pada pembedahan vena dilakukan ligasi tinggi dan pemotongan vena safena magna dan parva. Vena yang terserang diligasi pada pertemuan safeno femoral atau safeno popliteal, dan sebuah alat dimasukkn secara intra luminal untuk mengangkat seluruh pembuluh darah tersebut.


1.            Konservatif, simtomatik dan nonoperatif :
§ Menghindari berdiri dalam waktu yang lama
§ penurunan berat badan dan aktivitas otot seperti berjalan
§ Penggunaan kaos penyokong ringan yang nyaman, Pemasangan stocking elastis yang pas karena obliterasi vena superficial (vena safena mmana)
§ Konservatif :
o    Obat Venoruton (Gol hydroxyl Rutoside) 600 mg/hari minimal 2 minggu
o    Skleroterapi (tak dipakai lagi)
o    Lokal antiphlogistikum (Zinc Zalf (Pasta LAssar)
2.            Operatif :
§ Stripping vena saphena (V. shapena magna, v. saphena psotrior, dan v, saphena parva) dengan menggunakan alat stripper (vena dikeluarkan)
§ Ligasi VV kommunikans yaitu tempat-tempat di mana diperiksa ada kebocoran, diikat dan dipotong.
§ Ekstraksi (Babcock) dengan sayatan kecil-kecil vena-vena yang berkelok dicabut keluar.Ligasi, Stripping dan Ekstraski Babcock.
3.      Perawatan paska bedah :
·   Ekstremitas harus ditinggikan selama 4-6 jam.
·   Balutan penekan dipasang di kamar operasi seharusnya tetap dipakai selama 4-6 hari, dengan menggunakan balutan elastis (Balutan ACE)
·   24-48 jam paska bedah program ambulasi progresif seharusnya dimulai.
·   Klien diijinkan berjalan beberpa menit per jam, meningkat bertahap tiap hari dan tetap terlentang dengan ekstremitas ditinggikan, bila sedang berjalan.
·   Berdiri (tanpa jalan) dan duduk harus dihindari.
·   Stocking (stocking antiembolism) yang sesuai dengan kebiasaan harus dipakai delama beberapa bulan.
ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN GANGGUAN SISTEM VASKULER (VENA VARIKOSA)

I. Pengkajian Preoperasi
Pengkajian focus preoperative meliputi :
a.     Identitas
Kelainan ini lebih sering ditemukan pada wanita (rasio wanita terhadap pria 5:1), dengan banyak wanita menentukan bahwa saat mulainya varices terlihat dan simtomatik pada waktu kehamilan.
b.     Alasan masuk rumah sakit
Kosmetik, gejala simtomatik lainnya seperti : kelelahan dan sensasi berat, kram, nyeri , odema, Perdarahan spontan/akibat trauma dan Hiperpigmentasi
c.     Riwayat penyakit
Profokatif:  pemanjangan, berkelok-kelok dan pembesaran suatu vena
Kualaitatif:  kuantitatif, semakin berat
Regio: ekstremitas bawah (kedua kaki)
Severity: sakitnya mengganggu kosmetik dan aktivitas sehari-hari (kelelahan dan sensasi berat, kram, nyeri , odema)
Time: semakin hari semakin berat dan bertambah besar
d.     Riwayat atau factor-faktor resiko :
1.   kelemahan congenital/tidak adanya katup
2.   Pekerjaan yang nmengharuskan berdiri/duduk dalam waktu lama tanpa kontrasi otot intermettentrauma langsung ke katup vena perforantes
3.   kehamilan atau kelainan hormonal
4.   riwayat keluarga dengan varises vena
e.     Pemenuhan pola kebutuhan sehari-hari :
1.   Persepsi
      Perawat bertanggung jawab untuk menentukan pemahaman klien tentang infomrasi (sifat operasi, semua pilihan alternative, hasil yang diperkirakan dan kemungkinan komplikasi), yang kemudian diberitahukan kepada ahli bedah apaakah diperlukan informasi lebih banyak (Informed consent). Pengalaman pembedahan masa lalu dapat meningkatkan kenyamanan fisik dan psikis serta mencegah komplikasi.
2.   Status nutrisi
      Secara langsung mempengaruhi respon pada trauma pembedahan dan anestesi. Sebelumnya  perlu masukan karbohidrat dan protein untuk  keseimbangan nitrogen negative. Puasa perlu dipersiapkan 8 jam sebelum operasi.
3.   Status cairan dan elektrolit
      Klien dengan ketidakseimbangan cairan dan elektrolit cendrung mengalami komplikasi syok, hipotensi, hipoksia dan distritmia baik intraoperasi dan paska operasi.
4.   Status emosi
      Respon klien, keluarga dan orang terdekat pada tindakan pembedahan tergantung pengalaman masa lalu, strategi koping, system pendukung dan tingkat pembedahan. Kebanyakan klien yang mengantisipasi mengalami pembedahan dengan anssietas dan ketakutan.Ketidakpastian prosedur pembedahan menimbulkan ansietas, nyeri, insisi dan imobilisasi.
f.      Pemeriksaan fisik
Status lokalis :
1.   Dilatasi, lekuk-lekuk vena superfisialis pada kaki
2.   Keluhan sakit dangkal, kelelahan, kram, dan kaki berat, khsusnya setelah berdiri lama
3.   Pigmentasi kecoklatan pada kulit
4.   Bengkak, yang secara umum berkurang dengan peninggian tungkai
g.     Pemeriksaan diagnostik
1.   Venogram menunjukkan lokasi pasti dari varises kedua vena superficial dan dalam.
2.   Test  perfthes (klien berdiri sampai vena varikosa tampak dan digambar)
h.     Diagnosa keperawatan
1.   Praoperasi :
      Kecemasan berhubungan dengan kurangnya informasi dan pengalam tentang operasi infomrasi (sifat operasi, semua pilihan alternative, hasil yang diperkirakan dan kemungkinan komplikasi),
2.   Inoperasi :
- Risiko perubahan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan efek sekunder dari     ligasi dan pemotongan vena
- Risiko tinggi infeksi, hemorargi dan tromboplebitis berhubungan dengan efeks sekunder ligasi dan pemotongan vena
3.   Paskaoperasi :
- Risiko terhadap aspirasi berhubungan dengan somnolen dan peningkatan skeresi sekunder intubasi
-  Nyeri berhubungan dengan sekunder terhadap trauma pada jaringan dan saraf .




II. perencanaan
1.   Praoperasi :
-    Kecemasan berhubungan dengan kurangnya informasi dan pengalaman tentang operasi infomrasi (sifat operasi, semua pilihan alternative, hasil yang diperkirakan dan kemungkinan komplikasi),
        Tujuan : Cemas berkurang
Kriteria :
-      Klien dapat menyatakan rasa cemas dan masalahnya
-      Klien tenang dan tidak gelisah

















INTERVENSI
RASIONAL
1.   Ciptakan saling percaya
2.  Dorong pengungkapan masalah atau rasa cemas
  
3.   Jawab pertanyaan yang berhubungan dengan penatalaksanaan keperawatan dan perawatan medis
4.   Selesaikan persiapan pasien sebelum masuk ke kamar operasi
5.   Meminimalkan keributan di lingkungan
6.  Orientasikan pada ruang operasi (ulangi informasi untuk memungkinkan penyerapan)
7.   Pemantauan psikologis klien
 
8.   Tunjukkan perhatian dan sikap mendukung
 
9.  Beri penjelasan singkat tentang prosedur operasi
  
10. Beri reinforcement terhadap pernyataan yang positif dan mendukung

1.   Dasar untuk menemukan dan pemcehan masalah.
2.   Perasaan cemas yang diungkapakan pada orang yang dipercaya akan memberikan dampak lega dan merasa aman.
3.   Pertanyaan yang dijawab dan dimengerti akan mengurangi rasa cemasnya.


4.   Persiapan yang matang dapat menengkan suasana lingkungan sebelum operasi.

5.   Lingkungan rebut memuat stress.

6.   Lingkungan yang dimengerti akan mendorong kenyamanan dan keamanan klien.
7.   Tingkat kecemasan intoleran akan mengganggu pelaksanaan operasi dan anestesi.

8.   Support system meningkatkan mekanisme koping klien dalam menghadapi masalah.

9.   Penjelasan tentang informaasi seputar bedah memberikan informasi yang positif dan pengalaman persiapan diri dalam pembedahan.

10. Reinforcement meberikan dorongan system social untuk meningkatan koping mekanisme.

2. Intraoperasi :
   Risiko perubahan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan efek sekunder dari ligasi dan pemotongan vena
Tujuan : Perfusi jaringan normal/baik
Kriteria :
-      Penurunan edema
-      Ekstremitas hangat
-      Nadi pedalis dapat diraba

INTERVENSI
RASIONAL
1.   Pantau status neurovaskuler setiap 15 menit


2.   Observasi tanda-tanda vital


3.   Balance cairan


4.   Pantau saturasi oksigen pada jaringan perifer
1.  Pencatatan perdarahan selama operasi < 250 cc, pulsasi nadi pedalis merupakan data pendukung tentang perfusi jaringan masih baik.
2.  Salah satu tanda penurunan pefusi jairngan menurun adalah tensi menurun, suhu akral dingin dan nadi meningkat.

3.  CAiran masuk dan perdarahan serta output lainnya perlu diperhiutngkan untuk memenuhi kebutuhan balance cairan


4.  Saturasi oksiegen > 95% menunjukkan perfusi jaringan perifer masih baik.
  Risiko tinggi infeksi, hemorargi dan tromboplebitis berhubungan dengan efeks sekunder ligasi dan pemotongan vena
Tujuan : infeksi tidak terjadi
Kriteria hasil : -Perdarahan dirawat
-Lapangan operasi bersih
INTERVENSI          
RASIONAL
1.  Persiapan operasi secara seaseptik dan antiseptic


2. Dasar doek operasi dilandasi dengan perlak, plastic atau bahan lain yang kedap air

3. Perwatan darah (kasa steril/penyedot cairan atau darah)

4. Tambahkan doek diatas doek yang penuh dengan perdarahan
1.  Aseptik merupakan cara untuk membuat ruang antikontminasi. Dan alat-alat bersih dan tak terkontaminasi, sehingga pajangan infeksi minimal.
2. Darah dan rembsean darah merupakan media yang paling baik dalam perkembangan kuman atau bakteri
3. Darah bekas insisi, lligasi dibersihkan untuk mencegah perdarahan yang tercecer, tromboplebitis.
4. Penambahan doek untuk mencegah infeksi atau kontaminasi.

3.   Paskaoperasi :
   Risiko terhadap aspirasi berhubungan dengan somnolen dan peningkatan skeresi sekunder intubasi


Tujuan : tidak terjadi aspirasi
Kriteria :  
-      Jalan nafas lancar
-      Tidak ada tanda-tanda syok
-      Sekresi tidak ada
-      Tanda-tanda vital normal (tensi 130/80, nadi 88 kali/menit, RR 16-20 kali/menit)

INTERVENSI
RASIONAL
1.   Atur posisi klien tanpa bantal, ekstensi dan miring kanan/kiri

2.   Kaji ekstubasi jalan nafas dan aspirasi (muntahan atau lidakh tertekuk)
3.   Observasi Tanda-tanda vital

4.   Bersihkan jalan nafas dengan slem suction



5.   Oritentasi klien dengan menggunakan observasi aldert.
1.      Poisis ini untuk meluruskan jalan nafas sehingga pemenuhan akan oksigen terpenuhi dan jalan nafas bersih dan lancer

2.      Lidah tertekuk dan muntahan dapat menghambat/membuntui jalan nafas.
3.      Hipotensi, dyspneu dan apneu merupakan tanda terjadinya syok.


4.      Jalan nafas yang penuh dengan secret peru dihilangkan untuk jalan nafas spontan paska ekstubasi.




5.      Tingkat perkembangan paska anestesi dapat dilihat dari aktivitas, kesadaran, warna,
   Nyeri berhubungan dengan sekunder terhadap trauma pada jaringan dan saraf bekas       operasi stripping
Tujuan : nyeri berkurang
Kriteria :
-    Klien tenang dan tidak menyeringai
-    Klien mengerti factor penyebabnya seperti yang telah dijelaskan pada preoperasi

INTERVENSI
RASIONAL
1.     Kaji jtingkat nyeri

2. Atur posisi yang baik dan mengenakkan


3. Anjurkan klien nafas panjang dan dalam


4.     Observasi luka paskaoperasi
5.      Terapi analgetik
1.      NYeri dapat diantisipasi klien secara individualisme dan penanganan yan berbeda
2.      Posisi kaki lebih tinggi dari badan 30o dapat mengurangi peningkatan penekanan pada jaringan yang rusak sehingga mengurangi nyeri.
3.      Nafas panjang dan dalam merelaksasi otot yang dioperasi dan terimobilisasi sehingga nyeri berkurang
4.      Perhatikan stuwing yang meningkat menghambat suplai oksigen sehingga nyeri bertambah.

5.      Analgetik merupakan obat anti nyeri yang bekerja secara sentral atau perifer/local.




BAB III
TIJAUAN KASUS

KASUS
Ny. Ani,  perempuan berusia 30 tahun datang ke RSU Bapelkes Jombang pada hari Sabtu tanggal 31 Oktober 2009 pukul 14.00 dengan keluhan sering pegal dan terasa berat pada betis sebelah kanan. Dia juga sering merasakan kaki bagian bawahnya seperti terbakar, berdenyut, dan kejang otot, bahkan rasa sakit ini akan memburuk setelah duduk atau berdiri pada waktu yang cukup lama. Sebenarnya rasa sakit pada betis kanannya ini  sudah  sering dirasakan  sejak   beberapa waktu yang  lalu  saat hamil anak pertamanya, tetapi tidak seberat sekarang ini dan segera hilang setelah kakinya dilakukan pemijatan.
Karena sibuk mengurus anak pertamanya, Ny. Ani hampir  tidak menghiraukan rasa sakit pada kakinya bahkan tidak pernah ke dokter untuk memeriksakan  kesehatannya  dan  tidak  teratur  berolah  raga. Berat badannya pun mengalami kenaikan yang cukup signifikan sehingga dia sering merasakan pegal-pegal ketika melakukan aktifitas yang cukup berat. Setelah munculnya luka pada kulit di sekitar mata kaki sehingga mengganggu aktifitas Ny. Ani, maka pihak keluarga menyarankan agar segera memeriksakan diri ke Rumah Sakit agar mendapatkan pengobatan yang semestinya.
Setelah dilakukan pemeriksaan diketahui TTV_nya sebagai berikut, RR 20 x/menit, nadi 96 x/menit, tekanan darah 120/100 mmHg, suhu 37˚C. Serta ditemukan pembesaran pembulu vena pada betis bagian bawah.








Pengkajian data dasar pasien
A. identitas pasien
Nama                           : Ny. A
Umur                           : 30 tahun
Pekerjaan                     : ibu rumah tangga
Alamat                                    : Jln. diponegoro No. 40
Jenis kelamin               : perempuan
Agama                         : Islam
Diagnosa medis           : vena varikosa pada betis kanan bagian bawah
B. Riwayat keperawatan
Riwayat penyakit sekarang : sering pegal dan terasa berat pada betis sebelah kanan. Dia juga sering merasakan kaki bagian bawahnya seperti terbakar, berdenyut, dan kejang otot, bahkan rasa sakit ini akan memburuk setelah duduk atau berdiri pada waktu yang cukup lama.
Riwayat keperawatan sebelumnya : rasa sakit pada betis kanannya ini  sudah  sering dirasakan  sejak   beberapa waktu yang  lalu  saat hamil anak pertamanya, tetapi tidak seberat sekarang ini dan segera hilang setelah kakinya dilakukan pemijatan.
Riwayat kesehatan keluarga : tidak ada keluarga yang memiliki penyakit yang sam dengan  klien.
C.     Pemeriksaan fisik
-          Keadaan umum pasien     : composmentis
-           TTV                                 :RR 20 x/menit, nadi 96 x/menit, tekanan darah 120/100mmHg, suhu 37˚C.
-          Serta ditemukan pembesaran pembulu vena pada betis bagian bawah.
D.    Respirasi
Respirasi 20 x/menit
E.     Kardiovaskuler
Pemeriksaan jantung normal
F .        Diagnosa keperawatan
1.      Kecemasan berhubungan dengan kurangnya informasi dan pengalaman tentang            operasi.
                  Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan, kecemasan pasien berkurang
Kriteria :
-      Klien dapat menyatakan rasa cemas dan masalahnya
-      Klien tenang dan tidak gelisah
Intervensi dan rasional :
INTERVENSI
RASIONAL
1.  Dorong pengungkapan masalah atau rasa cemas
  
2. Jawab pertanyaan yang berhubungan dengan penatalaksanaan keperawatan dan perawatan medis 
3. Pemantauan psikologis klien
 
4. Tunjukkan perhatian dan sikap mendukung
 
5. Beri penjelasan singkat tentang prosedur operasi
  
6. Beri reinforcement terhadap pernyataan yang positif dan mendukung

1. Perasaan cemas yang diungkapakan pada orang yang dipercaya akan memberikan dampak lega dan merasa aman.

2. Pertanyaan yang dijawab dan dimengerti akan mengurangi rasa cemasnya.


3.Tingkat kecemasan intoleran akan mengganggu pelaksanaan operasi dan anestesi.
4.  Support system meningkatkan mekanisme koping klien dalam menghadapi masalah.


5. Penjelasan tentang informaasi seputar bedah memberikan informasi yang positif dan pengalaman persiapan diri dalam pembedahan.

6. Reinforcement meberikan dorongan system social untuk meningkatan koping mekanisme.

2.      Risiko tinggi infeksi, hemorargi dan tromboplebitis berhubungan dengan efeks    sekunder ligasi dan pemotongan vena.
Tujuan : infeksi tidak terjadi
Kriteria hasil : -Perdarahan dirawat
-Lapangan operasi bersih
INTERVENSI          
RASIONAL
1.  Persiapan operasi secara seaseptik dan antiseptic


2. Dasar doek operasi dilandasi dengan perlak, plastic atau bahan lain yang kedap air
3. Perwatan darah (kasa steril/penyedot cairan atau darah)
4. Tambahkan doek diatas doek yang penuh dengan perdarahan
1.  Aseptik merupakan cara untuk membuat ruang antikontminasi. Dan alat-alat bersih dan tak terkontaminasi, sehingga pajangan infeksi minimal.
2. Darah dan rembsean darah merupakan media yang paling baik dalam perkembangan kuman atau bakteri
3. Darah bekas insisi, lligasi dibersihkan untuk mencegah perdarahan yang tercecer, tromboplebitis.
4. Penambahan doek untuk mencegah infeksi atau kontaminasi.





3.      Nyeri berhubungan dengan sekunder terhadap erauma pada jaringan dan saraf
Tujuan : nyeri berkurang
Kriteria :
-    Klien tenang dan tidak menyeringai
-    Klien mengerti factor penyebabnya seperti yang telah dijelaskan pada preoperasi

INTERVENSI
RASIONAL
1.      Kaji tingkat nyeri

1.      Atur posisi yang baik dan mengenakkan



2.      Anjurkan klien nafas panjang dan dalam

3.      Observasi luka paskaoperasi


5. Terapi analgetik
1. Nyeri dapat diantisipasi klien secara individualisme dan penanganan yan berbeda
2.      Posisi kaki lebih tinggi dari badan 30o dapat mengurangi peningkatan penekanan pada jaringan yang rusak sehingga mengurangi nyeri.
3.      Nafas panjang dan dalam merelaksasi otot yang dioperasi dan terimobilisasi sehingga nyeri berkurang
4.      Perhatikan stuwing yang meningkat menghambat suplai oksigen sehingga nyeri bertambah.
5.      Analgetik merupakan obat anti nyeri yang bekerja secara sentral atau perifer/local.

BAB IV
PEMBAHASAN

Varises merupakan suatu kondisi terjadinya pelebaran pembuluh darah, terutama pembuluh darah balik (vena). Varises bisa terjadi di bagian tubuh manapun, namun lebih banyak ditemukan di daerah betis dan kaki. Hal ini dikarenakan peningkatan tekanan pada pembuluh vena saat tubuh berdiri dan berjalan. Selain itu, kaki juga menopang berat badan. Hal-hal ini dapat meningkatkan tekanan pada pembuluh darah vena di bagian kaki. Tidak hanya kaki, tubuh lain bisa saja terkena varises, misalnya di sekitar anus atau disebut hemoroid (ambeien/wasir). Penyebab varises tidak diketahui secara pasti, namun kemungkinannya adalah kelemahan pada dinding vena. Lama-kelamaan, vena kehilangan kelenturannya dan akan meregang dan menjadi lebih panjang dan lebih lebar. Untuk menyesuaikan dengan ruangnya yang normal, vena yang memanjang ini menjadi berliku-liku sehingga terbentuklah varises.
Masalah varises tidak hanya memperngaruhi kesehatan, tapi juga mengganggu penampilan. Bagaimana tidak, adanya benjolan seperti kabel berwarna biru-ungu sangat mengganggu keindahan kaki. Selain itu, varises juga menimbulkan ketidaknyamanan saat bergerak atau berjalan, bahkan menimbulkan sakit. Adanya varises juga bisa menandakan adanya gangguan kesehatan yang lebih serius seperti gangguan pada pembuluh darah di tubuh. Perlu diketahui bahwa varises tidak menyebabkan sakit, gejala yang mungkin dirasakan yaitu vena terlihat berwarna ungu atau terlihat biru.
Selain itu, vena tersimpul dan menonjol; kadang seperti kawat di kaki. Varises bisa juga terbentuk di bagian lain kaki dari paha sampai mata kaki.

            Gejala yang muncul pada kasus Ny. Ani adalah :
* Merasa terbakar, berdenyut, kejang otot, dan bengkak pada bagian bawah kaki.
Hal ini disesbabkan karena tidak lancarnya aliran darah akibat adanya kelemahan pada dinding vena. Sehingga lama-kelamaan, vena kehilangan kelenturannya dan akan meregang dan menjadi lebih panjang dan lebih lebar.


* Rasa sakit memburuk setelah duduk atau berdiri pada waktu yang cukup lama.
Hal ini dikarenakan terlalu lama berdiri atau duduk membuat kaki terlalu berat menahan tubuh dan memperparah beban kerja pembuluh vena dalam mengalirkan darah
* Luka pada kulit di sekitar mata kaki yang berarti dibutuhkan pengobatan medis karena telah terbentuk penyakit pembuluh darah yang cukup berat. Hal ini dikarenakan komplikasi varises yang sudah cukup parah yang berarti dibutuhkan pengobatan medis karena telah terbentuk penyakit pembuluh darah yang cukup berat.
Cara mengatasi gejala pada point pertama dan kedua tersebut dengan memberi obat-obatan yang menguatkan dinding vena dan memperlancar aliran darah, atau menggunakan stocking khusus varises.
Stocking ini berfungsi menekan pembuluh vena sehingga otot dan dinding vena bisa kembali bekerja maksimal. Stocking mampu mencegah, mengurangi gejala awal, dan rasa sakit penderitanya meski hanya temporer. Jadi, tetap harus minum obat.
Untuk mengatasi point ketiga karena telah terjadi perlukaan yang menunjukkan bahwa telah terjadi komplikasi yang parah maka dilakukan suntik zat iritasi ke dalam pembuluh darah yang rusak atau melebar. Jika suntik tidak membuahkan hasil, maka harus dilakukan pembedahan guna memotong pembuluh vena yang rusak sehingga aliran darah kembali normal.
Varises juga dapat terjadi pada wanita yang tidak sedang hamil, terjadinya dapat tidak diketahui/tidak diperhatikan. Genetik, usia ibu, diet kurang serat, kekurangan vitamin, kurang olah raga akan berpengaruh terhadap kejadian varises. Demikian juga pekerjaan yang membutuhkan berdiri lama dan berat badan yang berlebihan menambah risiko perempuan terkena varises.
Varises sering tidak bergejala. Beberapa wanita merasakan pegal dan rasa berat pada kaki, kadang-kadang disertai bengkak.
Varises juga dapat terjadi pada tempat lain. Dalam kehamilan dapat terjadi di daerah vagina dan bibir kemaluan. Bila terjadi peradangan pada varises, penderita akan merasa nyeri. Dapat juga terjadi luka sebagai komplikasinya.
Kebanyakan penderita varises tidak membutuhkan pengobatan. Pengobatan biasanya dibutuhkan bila terjadi komplikasi seperti luka, varises sangat menonjol (kepentingan kosmetik), atau untuk mengurangi rasa nyeri, terutama pada varises sekitar anus (hemorrhoid).
Tindakan pengobatan bisa bermacam-macam. Penderita dapat mengenakan kaus kaki khusus untuk varises, menjalani pembedahan untuk menghilangkan atau memperpendek pembuluh darah balik, menjalani pengobatan dengan suntikan. Pengobatan dengan laser pun bisa dilakukan untuk menutup varises pembuluh darah yang kecil.
Untuk mengatasi varises ini hendaknya penderita berolah raga teratur, diet banyak serat, minum yang banyak, hindarkan berat badan berlebih, hindari berdiri lama, saat istirahat tidak menyilangkan kaki, bergerak/ berjalan sejenak setelah duduk atau berdiri lama, tidur miring atau meninggikan kaki, menghindari mengenakan sepatu berhak tinggi, memakai baju yang santai/ tidak ketat.
Upaya-upaya ini akan mengurangi kemungkinan varises :
·         Olah Raga
Olah raga merupakan saran yang umum dikemukakan, namun banyak penyakit yang dapat dicegah dengan berolahraga, termasuk varises. Biarkan kaki anda bergerak. Berjalan merupakan cara yang paling baik untuk memacu sirkulasi darah di kaki.
·         Perhatikan Pola Makan dan Berat Badan
Kelebihan berat badan bisa memberikan kontribusi tekanan yang tidak diperlukan bagi pembuluh vena. Makanan yang anda konsumsi juga berpengaruh. Konsumsilah makanan yang rendah garam dan tinggi serat untuk mencegah timbulnya simpul-simpul vena di kaki yang terbentuk akibat retensi cairan dan konstipasi/sembelit.
·         Pakaian
Hindari alas kaki high heels.
Alas kaki rendah membuat otot betis bekerja lebih kuat, baik untuk pembuluh vena anda. Hindari penggunaan pakaian ketat di sekitar pinggang, kaki, dan paha. Pakaian yang ketat dapat menghambat aliran darah
·         Meninggikan Kaki
Untuk meningkatkan sirkulasi darah di kaki, biarkan kaki anda lebih tinggi posisinya dari pada jantung. Misalnya dengan berbaring dengan kaki bertumpu pada tiga atau empat bantal.
·         Hindari duduk atau berdiri lama
Cobalah untuk bergerak setidaknya setiap 30 menit, perubahan posisi dimaksudkan untuk mendorong aliran darah.
·         Hindari Duduk dengan Kaki Menyilang
Beberapa dokter percaya bahwa duduk dengan posisi ini dapat menyebabkan permasalahan sirkulasi darah.
               













BAB V
PENUTUP

5.1. Kesimpulan
§  Varises atau vena varikosa adalah vena- vena yang melebar dan berkelok- kelok yang terjadi di tempat darah berkumpul dan biasanya di tungkai.
§  Menurut Sabiston Vena varikosa diklasifikasikan menjadi: Vena varikosa primer dan Vena varikosa primer
§  Faktor Pemicu varises :
1.      Faktor keturunan
2.       Kehamilan
3.      Kurang gerak
4.      Merokok
5.      Terlalu banyak berdiri
6.      Menderita kolesterol tinggi dan kencing manis
7.      Memakai sepatu hak tinggi
5.2. Saran
·         Agar mahasiswa dapat menerti dan paham tentang macam- macam kasus varises
·         Agar mahasiswa dapat mengetahui tanda dan gejala penyakit varises
·         Agar mahasiswa dapat menerapkan cara- cara pencegahan dan pengobatan masalah varises






DAFTAR PUSTAKA

Engram, Barbara.2001. Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah Vol 2. jakarta. EGC
Doengoes, Marilyn, E. 1999. rencana Asuhan Keperawatan edisi 3. Jakarta. EGC
Price, Sylvia Anderson. 2005. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Jakarta : EGC.
Puruhito. 1987. Pengantar Bedah Vaskulus. Surabaya : Airlangga University.
Smelzer, Suzanne C. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Ed. 8. Vol. 2. Jakarta : EGC.



0 komentar:

Poskan Komentar